Climate Change and Milankovitch Theory

Approaching of Climate Change by The Milankovitch Theory

By  Sandro.W. Lubis

Department of  Meteorology and Geophysic, IPB

2009

Perubahan iklim menjadi bahan pembicaraan yang hangat di kalangan ilmuwan mulai dari kalangan Meteorolog, hingga ke para pakar ekonomi. Begitu banyak asumsi dan perdebatan yang sengit mengenai sumber penyebab terjadinya perubahan iklim. Para ilmuwan memperkenalkan berbagai teori dan metode untuk menjelaskan fenomena ini, mulai dari yang ringan seperti skenario sintetik, skenario analog hingga model yang rumit (GCM) atau Mathematical , physical or Statistical Model.

Pada kesempatan ini saya akan mencoba menjelaskan mengenai teori Milankovitch yang menjelaskan bagaiamana proses pergeseran benda langit secara alami dapat mengakibatkan terjadinya perubahan temperatur secara spasial di permukaan bumi.

Hampir selama 50 tahun teori ini tidak dipedulikan oleh para ilmuwan, tetapi pada tahun 70an konsep ini baru mulai diterima. Revolusi berikutnya dimulai ketika ilmuwan mulai mencoba merekonstruksi data iklim dengan menggunakan metode isotop dari inti samudera. Alhasil ditemukan adanya variasi iklim yang berkorelasi tinggi dengan perubahan geometri orbit bumi.

“Milankovitch mengkaji perubahan pada eksentrisitas orbit bumi (orbital eccentricity),kemiringan sumbu bumi (obliquity), dan presisi sumbu rotasi bumi  precession (astronomy) dari seluruh pergerakan bumi. Banyak perubahan yang terjadi pada pergerakan dan jumlah orientasi bumi dan dampaknya terhadap lokasi penerimaan radiasi surya di permukaan bumi.

  1. Eccentricity

Eksentrisitas adalah gambaran imajiner dari bentuk orbit bumi terhadap matahari. Variasi orbit bumi pada matahari dimulai dari orbit yang hampir berbentuk lingkaran dimana nilai e=0.0005 hingga bentuknya memanjang dengan e=0.0607. Nilai ini akan sangat mempengaruhi perbedaan musiman, ketika bumi dekat dengan matahari maka bumi akan memperoleh radiasi surya yang tinggi, sebaliknya ketika bumi berada pada posisi terjauh dari matahari maka radiasi yang akan diterima akan rendah. Sehingga jika posisi bumi dekat dengan matahari dan terjadi pada musim dingin maka musim dingin itu akan lebih panas begitu juga pada musim panas maka musim panas akan lebih panas. Total radiasi surya pada saat terjadi perihelion kira-kira 23 % lebih besar dari aphelion.

eccentricity_cycle1Perubahan Eksentrisitas Bumi terhadap Matahari

2.   Obliquity

Obliquity adalah variasi kemiringan poros bumi dari bidang orbit. Variasi kemiringan adalah 22.1o and 24.5o dan rata-rata yang kita gunakan adalah 23.5o .Perubahan kemiringan ini menghabiskan waktu sekitar 40.000 tahun setiap siklusnya jadi waktu yang dibutuhkan cukup panjang. Karena terjadi perubahan kemiringan ini maka musim di muka bumi menjadi lebih tidak terkendali. Jika kemiringan bumi bertambah maka musim panas akan lebih panas dan musim dingin akan lebih dingin. Sebaliknya jika terjadi pengurangan kemiringan berarti musim panas akan menjadi lebih dingin dan musim dingin akan menjadi lebih panas. Sebagai contoh, jika terjadi kenaikan 1 derajat kemiringan maka energi yang diterima akan meningkat sebesar 1%, wow…saat ini pergerakan mencapai 1.4 km/abad sehingga kemiringan menurun -46.85 inches/century (Berger, 2001).

obliquityPerubahan Kemiringan Bumi

3.   Precession

Presisi adalah perubahan arah orientasi sumbu rotasi bumi. Siklus ini menghabiskan waktu selama 19.000-23.000 tahun. Presisi diakibatkan karena dua aktor yaitu guncangan sumbu rotasi bumi dan perputaran pada orbit elips pada bumi sendiri. Jika obliquity mengakibatkan perubahan kemiringan poros bumi maka presisi akan mengkibatkan perubahan arah rotasi bumi. Dampaknya adalah terjadi perubahan tanggal perihelion dan aphelion dan hal ini akan meningkatkan kontras musim pada salah satu belahan bumi dan sementara pada bagian lainnya penurunan, sebagai contoh saat ini posisi bumi sangat dekat dengan matahari pada saat winter di musim dingin pada bumi belahan utara sehingga musim dingin akan lebih panas dan sebaliknya.

precessionPresisi Bumi

Para ahli ilmu bumi berpendapat bahwa perubahan iklim di bumi terjadi karena bumi sedang melewati fase ini atau fase internal matahari (sunspot dan lainnya) sehingga mengakibatkan kenaikan suhu permukaan bumi. Berikut adalah contoh perhitungan perubahan iklim yang memiliki nilai yang mirip dengan output GCM.

Asumsi nilai S adalah 1370 w/m2 , suhu rata-rata bumi adalah 287,15K sedangkan a adalah albedo dan e adalah emisivitas.

rumus11

Contoh jika terjadi perubahan S pada matahari yang sampai ke bumi sebesar 1 % sedangkan a dan e konstan maka

rumus2

Sehingga temperatur bumi meningkat sebesar 0.72 C, nilai ini sama dengan nilai model GCM,hal inilah yang menjadi perdebatan antara ilmuwan mengenai fenomena global warming.(Sandro,Lbs)

Bibliography:

  • Kutipan dari kuliah Prof.Ahmad Bey (Deparment of Meteorology and Geophysic)
  • Milankovitch, Milutin (1998) [1941]. Canon of Insolation and the Ice Age Problem. Belgrade: Zavod za Udz̆benike i Nastavna Sredstva. ISBN 8617066199. ; see also “Astronomical Theory of Climate Change”. http://www.ncdc.noaa.gov/paleo/milankovitch.html.

http://www.emporia.edu, Milankovitch theory

~ by sandrolubis on April 24, 2009.

17 Responses to “Climate Change and Milankovitch Theory”

  1. Menarik untuk dikaji lebih lanjut.
    Salam kenal,
    Diki-Gfm’37

  2. thanks banget atas ulasanya ini,sangat brmanfa’at sekali bagi say🙂

  3. Ikut menyimak.

  4. Ulasannya sangat menarik dan tampilannya juga oke banget

  5. wah.. info yang menarik sekali.. kebetulan saya sedang mencari tau tentang milankovitch theory.. saya baru dapat beberapa artikel yang membingungkan, kebetulan baru habis dari website ilmuwan sceptic yang mengatakan kalo menurut hukum thermodinamika, suhu lah yang menyebabkan konsentrasi CO2 meningkat:
    http://motls.blogspot.com/2006/07/carbon-dioxide-and-temperatures-ice.html

    inti artikelnya adalah: ketika suhu udara meningkat, maka kemampuan lautan dalam menyimpan gas menjadi berkurang, sama seperti ketika kita membuka sekaleng coca cola dingin dihari yang panas. data paleoclimate selalu menunjukkan adanya korelasi yang nyaris sempurna antara CO2 dan suhu, masalahnya data paleoclimate itu juga menunjukkan kalo selain dengan suhu, CO2 juga berkorelasi dengan methana- CH4. dalam fisika klasik, jika A dan B punya korelasi maka besar kemungkinan A disebabkan oleh B, atau B disebabkan oleh A, atau.. A dan B disebabkan oleh faktor lain yaitu C. kebanyakan yang saya tahu, suhu meningkat karena CO2 juga meningkat.. tapi bagaimana hubungan antara CO2 dengan methana.. yang pasti, dua-duanya sama-sama gas.. jadi bukankah memang ada kemungkinan bahwa konsentrasinya CO2 dan CH4 sebenarnya dipengaruhi oleh suhu dan bukannya sebaliknya? benar gak sih ini.. (jadi bingung euy)

    selanjutnya juga disebutkan dari data paleoclimate menunjukkan adanya lag rata-rata 800 tahun antara CO2 dengan suhu.. dimana fluktuasi suhu selalu terjadi lebih dulu baru diikuti fluktuasi konsentrasi CO2.. menurut fisikawan sceptic itu, lag terjadi karena lautan kita membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memanas dan melepaskan gas karena adanya panas laten.

    tentu saja saya mengcrosscheck teori fisikawan ini dengan bantahan dari realclimate.org (linknya ada di salah satu comment di blog motls tadi). menurut real climate, CO2 adalah amplifier, makanya relasinya kuat dengan suhu, tapi ini tetap tidak menjawab pertanyaan kenapa fluktuasi suhu selalu terjadi terlebih dahulu, begitu juga ketika menurut realclimate.org lag 800 tahun itu terjadi karena saat itu bumi sedang keluar dari zaman es yang terakhir.. tapi menurut saya itu malah tidak membuktikan apa-apa dan hanya semakin menunjukkan bahwa peningkatan atau penurunan suhu selalu terjadi lebih dulu dari CO2.. lantas kenapa suhu bisa meningkat, mungkinkah teori milankovitch ini lebih benar dari teori gas rumah kaca? jika memang amplifier bukankah seharusnya fluktuasi CO2 terjadi lebih dulu dibandingkan fluktuasi suhu, dan bukannya sebaliknya. mengaitkannya dengan albedo pun rasanya malah bertentangan.. apalagi hasil searching saya menunjukkan pada planet yang ditutupi seluruhnya oleh es, terjadi penurunan suhu, dan penurunan suhu ini malah tidak dipengaruhi oleh umpan balik antara suhu-albedo.. (eh saya nggak terlalu ngerti juga sih) tapi artikelnya ada disini:
    http://www.open.ou.nl/dja/Klimaat/System/albedo_and_albedo-temperat.htm

    lagipula ada yang aneh ketika terjadi peralihan dari zaman es, konsentrasi CO2 meningkat 100 ppm dari 180 ppm menjadi 280 ppm dan peningkatan ini ditemani dengan kenaikan suhu 8 C. peningkatan konsentrasi CO2 yang sama terjadi di zama modern pada satu abad terakhir (1800-2005) yaitu dari 280 ppm menjadi 380 ppm, tapi saat ini naiknya suhu hanya 0,7 C. tidak kah ini menunjukkan korelasi matematis yang berbeda? apa karena dulu banyak es, jadi suhu kita lebih tinggi.. tapi bukankah harusnya dibutuhkan energi yang lebih banyak untuk mencairkan es dalam bentuk transfer panas laten daripada sekedar menguapkan lautan.. panas laten tidak meningkatkan suhu kan?

    terus terang makin lama saya menelusuri internet saya jadi makin bingung, tentu saja saya bisa membedakan mana blog yang dikelola oleh orang2 sceptic dan mana yang benar dikelola oleh ilmuwan pro IPCC..

    tapi mungkin karena basic ilmu saya yang bukan di bidang iklim, saya jadi tambah bingung apalagi saya nemuin artikel ini:
    http://www.guardian.co.uk/commentisfree/cif-green/2009/nov/23/global-warming-leaked-email-climate-scientists

    walopun isi email itu rasanya seperti email para mafia di film-film Hollywood tapi kalo itu benar rasanya miris sekali.. apalagi jurnalis yang mempostingnya dulunya orang yang selalu go green..

    adalagi hasil hack email dari ilmuwan di UEA yang menunjukkan bahwa banyak data mereka sudah di”sesuaikan” untuk menunjukkan adanya trend pemanasan:
    http://online.wsj.com/article/SB10001424052748704779704574553652849094482.html

    saya tidak pro pada climate change anthropogenic causes, juga tidak pro pada climate change natural causes.. saya hanya mengamati dan mencoba menambah wawasan secara berimbang.. itu kenapa saya lebih menyukai tipical meteorologis seperti Robert Pilke Sr, dibandingkan Lindzen.

    tapi jika memang ini hanya konspirasi mungkin kita sudah melakukan antisipasi yang salah.. bahkan environmentalis seperti Robert Pilke Jr walaupun selalu menerima hasil IPCC tapi beliau juga mengatakan bahwa mengurangi emisi gas rumah kaca sama sekali bukan jawaban bagi climate change.
    mungkin saja kan? ketika cakupan kita menjadi terlampau global, kita akhirnya melupakan permasalahan-permasalahan lingkungan yang lebih bersifat lokal.. misalnya ketika semua orang meributkan kenaikan sea level pada beberapa pulau coral, sebenernya permasalahannya bukan sea level itu tapi over populasi dan pengurasan air tanah sekaligus pengrusakan terumbu karang.
    jadi saya setuju, ruang diskusi atau entahlah mau disebut perdebatan juga boleh, harus tetap dibuka.. karena dengan begitu kita jadi tau sumber permasalahan sebenarnya dan dengan demikian bisa merumuskan solusi yang paling tepat.

    ohya.. akhir kata tentu saja saya peduli lingkungan..

    cheers
    anonym

  6. Ok…saya sudah menangkap kekhawatiran saudara terhadap issue ini khususnya bagi pihak2 tertentu..ya memang issue ini jika dikaitka ke politik akan sangat kompleks..
    terimakasih yudha atas informasinya🙂
    Salam kenal..sukses untuk researchnya di NTU
    Oh iya, scholarshipnya ok juga tuh, sampai saat ini research undergraduate saya masih mengejar target bulan 7..
    sejauh ini saya sudah berhasil mensimulasikan gelombang kompleks ekuatorial..dan masih mengolah data analisis stratosfer seIndonesia..
    salam kenal Yudha,🙂

  7. Bung Sandro, posisi kita mungkin sama, “scientist on training”. Sebagai scientist tentunya kita paham bahwa kita tidak akan mungkin 100% yakin, selalu ada tingkat akurasi yang biasa kita sebut confidence level. Saya sama sekali tidak menampik teori Milankovitch, bahkan saya sangat setuju, jika dihubungkan dengan siklus jangka panjang seperti siklus glacial, dsb.
    Tapi jika ingin dikaitkan dengan Global Warming yang tengah terjadi saya ragu teori Milankovitch ini punya pengaruh signifikan sebab saya belum melihat fakta2 yg mendukung. Berbeda dengan teori green house gas, fakta2nya jelas (kadar CO2 meningkat, temperatur global meningkat) dan telah divalidasi dengan model (faktor anthropogenic berperan signifikan), jadi “alur pembuktiannya” sudah kumplit, maka kesimpulan yang diambil memiliki kekuatan ilmiah (masih dalam ranah ilmiah, tidak 100% pasti). Hal2 ini bisa dilihat di laporan2 IPCC.

    Nah kembali ke ranah kebijakan publik, kalau di Indonesia sudah sepakat untuk melakukan adaptasi dan mitigasi tanpa memperdebatkan penyebab Global warming, itu sangat bagus. Tapi publik juga termasuk perusahaan2 multi-nasional, apa iya perusahaan power-plant, pertambangan, otomotif, dll mau mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang berakibat turunnya omset dan profit mereka ?, justru disitu saya ragu. Jadi harapan anda terhadap tanggapan publik bisa meleset.

    Maaf Bung Sandro, saya agak paranoid buka identitas lengkap di-blog atau forum. Saya sempat kirim email ke alamat anda disini sandro.freezy@gmail.com , tapi mungkin tidak sampai atau entah bagaimana, bisa saya kirim lagi ?.

  8. 🙂 ya..
    saudara Yudha sepertinya pro bahwa climate change is entirely causing by anthropogenic gasses..terlihat sekali.
    Jadi begini yudha..harapan saya publik tidak berpikir seperti, justru wawasan publik semakin luas bahwa sampai saat ini pun penyebab climate change belum ada yang memastikan secara tepat, inilah perspektif dari berbagai ilmuwan dunia.
    Jika anda mengatakan bahwa CC disebabkan oleg gas2 green house, saya berani mengatakan bahwa ini juga masih diragukan karena IPCC menggunakan model dimana akurasi model juga terbatas, walaupun sudah divalidasi,, begitu juga teori radiasi dan milankovitch, coba saudara baca di dalam buku text international, beberapa juga sudah memvalidasi teori ini, namun msih juga ada kelemahan2an bahkan buku tersebut mengatakan bahwa Milankovicth saja tidak cukup,,,so..
    saya sangat berharap bahwa masyarakat menjadi lebih paham intinya, bumi kita sedang tidak stabil dan memanas (demam)..

    Di kalangan akademisi pun, hal ini menjadi pembicaraan yang hangat..tetapi kami sepakat bahwa kita tidak perlu memperdebatkan apa penyebabnya, tetapi bagaimana caranya kita melakukan tindakan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim ini.
    Jadi action kita tetap sama, yaitu bagaimana caranya untuk menggembalikan kenyamanan suhu bumi ini (climate) dengan cara yang seperti saudara katakan melakukan kampanye2 positif untuk mengurangi konsumsi energi berbasis carbon, pengembangan sumber energi alternatif, pembangunan ramah lingkungan dan pelestarian ekosistem.

    Jadi muncul pertanyaan, apakah pelestarian lingkungan hanya dilakukan ketika ada issue CC? tentu tidak,.,issu ini hanya meningkatkan kesadaran kita untuk lebih peduli terhadap alam.
    Pengetahuan terus berkembang dan diperbaharui.
    Saya belum bisa menemukan siapa saudara..(identity)
    mungkin anda bisa langsung memperkenalkan diri sehingga diskusi kita menjadi lebih seruuuuuu he🙂

  9. Begini Bung Sandro, saya lebih khawatir ke pembentukan opini publik yang membaca artikel anda ini. Kerry Emmanuel(MIT) dalam sebuah debat tentang Global Warming dan Gavin Schmidt(NASA) dikesempatan lain mengatakan bahwa banyak usaha dari perusahan2 multi-nasional dibidang petrol, powerplant, dll untuk memecah opini publik terutama di USA dan Eropa sehingga pengambilan kebijakan dalam senat dan parlemen menjadi sangat alot dan kerap gagal. Sebabnya sangat jelas, pemotongan emisi carbon untuk mengurangi kadar green house gas mengancam bisnis mereka.

    Kalau dalam dunia ilmiah dan akademik perdebatan dan diskusi itu adalah hal yang memang kita lakukan, tetapi publik mungkin tidak terlalu bijak memahami hal ini, sedikit ide2 alternatif yang muncul (seperti yang anda ulas ini) bisa langsung membuat publik berubah pikiran (badan survey Gallup menunjukkan 50% publik USA tidak percaya Global Warming akibat anthropogenic). Ini tentunya menghambat kampanye2 positif untuk mengurangi konsumsi energi berbasis carbon, pengembangan sumber energi alternatif, pembangunan ramah lingkungan dan pelestarian ekosistem.

    Jadi saya rasa penting untuk membuat catatan kecil dalam ulasan seperti tulisan anda ini, apakah harus disikapi publik secara aktual dan penting untuk ditindak lanjuti atau masih berupa wacana akademis.

    Salam kenal juga Bung Sandro, silahkan akses URL saya.

  10. Ya..bisa jadi..tetapi jika saudara perhatikan…kasus2 seperti inilah yang membuat terbentuknya dua blok besar negara2 dunia terhadap sumber penyebab climate change.. Anthropogenic or Natural Cycle/Disturbances (either Solar or Earth system).
    Ini juga yang menjadi perdebatan waktu saya ke Jerman tahun lalu,,,
    tiap ilmuwan saling mempertahankan argumen ilmiahnya dan validasi masing2 model yang dikaitkan dengan kondisi aktual…
    saya harap ini tidak hanya menjadi wacana tetapi membuka wawasan kita terhadap apa yang sedang diperdebatkan oleh banyak ilmuwan dunia.
    Salam kenal yudha,,
    kamu sekolah atau kerja dimana?

  11. Respond yang panjang dan sangat jelas Bung Sandro, terimakasih. Yang saya tangkap dari tanggapan anda ialah, ulasan Teori Milankovitch ini hanyalah wacana, tidak bertujuan membantah teori Global Warming akibat gas rumah kaca hasil aktifitas manusia (anthropogenic) yang tengah terjadi sekian dekade belakangan ini sampai sekarang (temperatur stik hoki) .

    Teori Milankovitch sendiri sangat menarik untuk dikaji lebih jauh (seperti rencana anda), hanya saja akan menjadi tidak terlalu penting untuk dihubungkan dengan fenomena Global Warming yang tengah terjadi jikalau fakta2 menunjukkan hubungan yang tidak signifikan (seperti yang terjadi dengan teori sunspot).

    Ulasan ini saya rasa lebih cenderung masuk ke ranah Paleo-climate, membahas siklus glacial, dsb. Mungkin seperti yang anda kutip ini :

    “ilmuwan mulai mencoba merekonstruksi data iklim dengan menggunakan metode isotop dari inti samudera. Alhasil ditemukan adanya variasi iklim yang berkorelasi tinggi dengan perubahan geometri orbit bumi.”

  12. validasi?saya punya…tetapi tidak saya tampilkan..mulai dari validasi teori milankovitch dan energi radiasi…

  13. oh yeah,.,,,persamaan matematika diatas merupakan bentuk sederhana,,,artinya ada beberapa bagian solusi matematika (alur penurunan) yang saya tidak tampilkan agar pembaca mau untuk mengkaji bahkan menjustify lebih lanjut

  14. Hi yudha..
    terimakasih atas masukannya,,,,
    teori ini akan sangat panjang dan kompleks jika mau diselusuri dari awal sampai perkembangannya saat ini…
    salah satu tujuan saya menulis artikel ini adalah memberikan informasi kritis agar si pembaca membaca lebih lanjut mengeani topik ini…
    jika anda mengatakan tidak lengkap, jelas iya karena scope penulisan artikel saya saat ini hanya sebatas radiative equilibrium case…
    saya mengerti yang anda maksud..

    Saya berencana untuk menulis lagi, sebenarnya kelanjutan dari teori milankovitch diatas, berikut artikel yang rencananya akan saya buat:
    1. Problems with Milankovitch theory
    2. Reassessing theory “Milankovitch is not enough”
    3. Reinforcing the Milankovicth signal

    Mengenai perumusan energi radiasi (kesetimbangan) yang saya buat itu memang secara general dengan menggunakan banyak asumsi. Tujuannya adalah agar diperoleh trivial solutuion dengan teknik isolasi melalui proses2 fisika..atau sering disebut dengan Heuristic Model.

    Nah, artikel saya ini hanyalah infromasi atau wawasan dasar bahwa fluks radiasi matahari mempengaruhi secara nyata iklim bumi..

    Jika anda ingin membangun formula yang kompleks dan menggunakan banyak prediktor bebas mungkin bisa dilihat di IPCC bahka model iklim yang mereka bangun menggunakan pemikiran ratusan ilmuwan dunia dan kombinasi persamaan statistik, matematika, fisika, ekonomi, sosial dst…

    jika anda punya alur pembuktian yang lebih jelas mungkin anda bisa jelaskan disini..saya menulis menggunakan referensi dari textbook international dan bahan kuliah terbuka professor saya🙂

  15. Makasih tanggapannya. Yang saya maksud dengan “alur pembuktian”, ialah alur penyajian bukti2 yang mendukung kesimpulan yang mau anda tarik. Praktisnya, fakta2 lebih penting untuk tampil diawal (data observasi) sebelum teori dan mekanisme diusulkan, baru kemudian diperkuat dengan validasi. Kalau tidak begitu kesimpulan yang diambil akhirnya hanyalah wacana teoritis semata (seperti artikel anda ini), tidak punya kekuatan ilmiah untuk dipertimbangkan lebih jauh, terlebih lagi untuk meyakinkan publik.

    Saya rasa penting untuk menyatakan apakah suatu bahasan yang muncul dimedia publik seperti blog ini hanyalah wacana atau sudah terbukti dan valid, agar informasi yang ditangkap oleh publik tidak menjadi bias.

  16. Thks ya atas infonya,,,Asal formula menurut saya clear, berangkat dari kesetimbangn hukum radiasi dan energi, bisa dibaca di banyak textbook asing.
    Asumsi, ya..benar ini tidak dimasukan,,tujuan justifikasi ini hanya ingin melihat sejauh mana pengaruh matahari terhadap kesetimbangan energi bumi. Formula ini muncul dengan menggunakan banyak asumsi.
    pembuktian yang saya gunakan dalam kasus ini hanyalah pembuktian sederhana dan trivial solution. Tidak menggunakan perhitungan kompleks ,karena berangkat dari banyak asumsi awal yg digunakan.
    Coba anda ikuti perkembangan mengenai penyebab global warming,,secara alami bisa diakibatkan oleh sistem bumi sendiri dan sistem matahari…teori yang dijelaskan milankovitch disini memang lebih ke sistem bumi. tetapi konteks yang saya tampilkan disini adalah masih sebatas teori belum validasi, jadi who knows..bisa ya dan mungkin juga bisa dibantah.
    vielen danke🙂

  17. Ulasan yang menarik, tapi kurang clear, asal formula dan alasan asumsi yg diambil tidak dijelaskan. Dan yang paling bermasalah buat saya ialah alur pembuktian yang terlalu kasar.
    Perlu ditunjukkan dahulu bukti bahwa radiasi matahari memang berkaitan dengan Global Warming, baru kemudian faktor2 astronomi Bumi ini masuk sebagai penjelasan mekanisme-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: